tunggu aku dik

May 30th, 2007 by bajang

tunggu aku dik

tunggu saja sebentar adikku sayang

seminggu lagi mungkin kau sudah akan aku gendong kembali

jangan mengomel!

umurmu terlalu belia untuk benci dan memarahiku

Yogyakarta

, 20 Mei 2007

Bookmark and Share

‘TARIAN SETAN LAKNAT INI HARUS SEGERA DIHENTIKAN’

May 30th, 2007 by bajang

satu tekanan mendesak dalam dadadada sesak yang terombangambing di perahu senyap

satu hentakan keras membentur tiang dan kepala gelandangan yang bergumam

‘akh…siang ini makin panas saja’

dua ratus juta lebih pasang mata mengamati dan menunggu

ledakan yang akan mengguncang dan menggeser letak duduk para penonton di studio itu.

padahal. napas kebahagian hanya direngkuh sepuluhduapuluh tangan kotor bernanah

tuantuan yang terhormat-

negaraku telah diobral di pasar global dengan harga eceran paling murah

didiskon berlipatlipat

plus bonus keperawanan perawanperawan pertiwi.

mari kita robohkan saja rumah setan tua yang durhaka

bisu dan karatan lumutan ini.

karena aku percaya

glombang orangorang tergusur

hentakan orangorang terusir dan hempasan orangorang pemberani

adalah guncangan paling gemetar untuk menumbangkan tirani dan dansa setansetan keparat ini.

dan satu hal yang ingin aku teriakkan

‘TARIAN SETAN LAKNAT INI HARUS SEGERA DIHENTIKAN’

Bookmark and Share

pada pesta bunga

May 30th, 2007 by bajang

pada pesta bunga

aku telah diundang dalam pesta terbesar malam itu

jamuan paling meriah

pesta bunga di taman

kota

oh ya

sebelumnya aku ingin bercerita :

sehari sebelum pesta aku datang menyelusup tanpa berkata pada siapasiapa

seperti langkah para pengintai dalam film kartun, aku masuk ke taman itu. sedikit menjinjit kaki dan….

wah…

keren sekali.

banyak bunga tersebar mekar sebelum musimnya.

uh…. luar biasa. disemprot parfumparfum impor dari negeri jauh

sana

.

harum

wangi

indah.

aku pulang dengan hati lega.

wah besok pesta bunga pasti meriah. hanya aku manusia dan yang lain semuanya bunga

benarbenar pesta bunga

keesokan harinya aku datang.

setelah berdandan rapi dan memakai dasi serta parfum yang aku beli di kakilima seminggu yang lalu.

aku masuk.

akh….

bunganya telah layu semua…

hah….kecewa.

kenapa ya?

‘bungabunga mekar sebelum musimnya. ya pntas saja layu sebelum waktunya’ seorang gelandangan mengoceh padaku.

hu…sok tau!

aku pulang

kecewa.

Yogyakarta, maret 2007

Bookmark and Share

MAWAR UNTUKMU

May 30th, 2007 by bajang

MAWAR UNTUKMU

kita telah sepakat untuk menjalin cinta
kau menggandengku lalu kita berlari

sudah
hempasakan saja semua yang kita inginkan
dan tunggu saja aku sejenak. aku sedang menanam bunga mawar untukmu
harga bunga terlalu mahal di kota ini
besok saat kita kembali
semoga telah mekar dan aku akan berkata
‘ini aku berikan mawar untukmu’

Yogyakarta, 20 Mei 200

Bookmark and Share

ibu pertiwi bersusah hati

May 30th, 2007 by bajang

ibu pertiwi bersusah hati

aku dengar teriakanteriakan dari jalanan siang itu

dengan megaphone seorang lelaki gondrong

mengepalkan tangan kiri memimpin bernyayi

"indonesia tanah air siapa / katanya tanah air beta / Indonesia sejak 45 janjinya rakyat sejahtera / nyatanya kini kubertanya / petani digusur sawahnya/ buruh murah miskin dan sengsara/ sampai akhir menutup mata"

lucu.

aku memperhatikannya

"naik-naik semua haraga / tinggi-tinggi sekali /kiri kanan kulihat saja banyak rakyat sengsara / kiri kanan kulihat saja / banyak buruh merana"

haha

lucu juga

mereka berteriak

bergantian satu persatu

aku mendekat

‘boleh aku bergabung?’

‘oh…ayo kawan’

aku lalu ikut bernyayi

gampang sekali liriknya hanya diplesetkan sedikit.

aku malah merasa ini lagu yang sebenarnya.

ayo menyanyi bersama

"kulihat ibu pertiwi / sedang bersusah hat / air matanya berlinang…"

loh..kok gak diplesetin

o…ya ya..ibu pertiwi dari dulu sampai sekarang memang bersusah hati…

aku mengerti

ayo nyanyi lagi!!

Yogyakarta, Mei 2007

Bookmark and Share

dengarkan ini, orang tua!

May 30th, 2007 by bajang

dengarkan ini, orang tua!

seorang penyair muda protes :

akh…garagara aku pemula kau tidak menghargaiku.

coba kalau aku senior, punya kharisma dan punya banyak karya. pasti kau sujud dan sangat hormat padaku.

bukan begitu anak muda

lalu. karena apa penyair tua?

terdiam. tak bisa menjawab.

aku rasa aku tak ada bedanya dengan kalian. kalau puisiku adalah kegelisahan hati. teriakan batin dan kegilaan imaji, lalu apa milikmu bukan?

kalau puisiku gelombang perlawanan terpinggirkan dan tangisan sunyi keterpojokan apa puisimu bukan?

atau janganjangan puisimu hanya bangakai busuk keegoisan. bukan

kan

?

semua orang pantas untuk jadi penyair, wahai orang tua.

termasuk aku

yogyakarta,

28 april 2007

Bookmark and Share

bisiki aku kalau kau begitu menyayangiku

May 30th, 2007 by bajang

bisiki aku kalau kau begitu menyayangiku

kesinilah wahai betinaku

duduk merapat padaku

hujan ini mungkin lama akan berakhir

kita telah jauh bertolak dari kotamu

melarikan diri dari penat yang tak kunjung henti.

mari mendekat sayang

lihatlah

penjaga warung makan ini mukai gundah

dan tengoklah anak kecil lucu bersepatu kebesaran itu

aku tahu kau menghayalkan

kelak kau ingin punya anak lucu dariku

haha…

katakan saja

kau begitu tak ingin kehilangan aku

aku tahu

karena yang kurasa mungkin tak jauh berbeda denganmu

hei…bisiki aku

kalau kau begitu menyayangiku

Magelang, 19 Mei 2007

Bookmark and Share

‘akh…mungkin ini hanya pikiranmu saja kawan’

May 30th, 2007 by bajang

‘akh…mungkin ini hanya pikiranmu saja kawan’

kebosanan paling sering menggeranyangi.

dan pagi ini aku bisa merenung sedikit dan bebas bercerita sendiri tentang apa yang ingin aku ukir kapan saja.

saat firaun berkata pada musa.

‘enyah saja kau musa. kau hanya akan mengganguku yang telah berikrar tuli untuk semua katakatamu. karena pesan dari tuhan sungguh telah kau karangkarang sendiri untuk merebut tahtaku’

lalu musa marah.

aku berpikir :

‘wah…agamaagama pasti akan membenciku dengan pikiran seperti itu’

tapi apa tuhan ikut marah?

mungkin saja ia memujiku

atau mungkin ia hanya akan cuek dengan segala tingkah polahku

sambil menonton skenario yang telah lama ia buat dan ingin segera ia akhiri

‘akh…mungkin ini hanya pikiranmu saja kawan’

yogyakarta, mei 2007

Bookmark and Share

sebentar lagi

April 21st, 2007 by bajang

sebentar lagi

menulang. jauh lebih dingin dari segara anak. zaman semakin larut saja. banyak ketertinggalan yang begitu lugu telah aku bohongi.

diantara kita semakin jujur saja pada amandel kronis yang menggelantung di batang leher yang kian kaku.

ada sedikit waktu rasanya malam tadi. sayangnya kita lewatkan saja tanpa menoleh ke sungai samping hotel megah tempat kita menginap. aku kadang begitu memaksa layar monitor ini menayangkan tulisantulisan retak yang kata orang adalah puisi.

seperti biasa. malammalam kita diisi tidur yang kacau dan gelisah yang berlarian berputar dalam aorta. mengenang kisah mereka yang terpenggal tewas dalam babakbabak konyol sejarah seperti halnya mengenang dongengdongeng ayah waktu kecil dulu bagiku. dongeng yang baru sekarang aku tahu hanya banyolan belaka.

aku ingin menngerat sesuatu. mengerat dengan gigigigiku sebelum ompong dan tertanggal satupersatu. mengerat dagingdaging haram dari badanbadan menyebalkan dan membosankan yang tiap hari selalu saja menjadi sorotan duaratus duapuluh

lima

juta lebih pasang biji mata. mengerat dan menelannya dengan segala kasih sayang yang berputar terbalik arah.

ini adalah puncak kekecewaan itu sobat. puncak kelelahan yang panas dan lekas ingin meleleh membanjir.

kita sudah terlalu lama berangan tentang bendera putih yang berkibar di puncak tursina. hayalan itu jauh telah kita pikirkan sebelum musa gagal melihat tuhannya disana. kita tinggal menunggu saja, karena meski baru terdengar berbisik, amuk masa sudah siap untuk menggelegar.

jogja16 april 2007

Bookmark and Share

KENANGAN LAUT

March 19th, 2007 by bajang

Adalah dia. Seorang lelaki. Dia telah menaklukkan laut setakluk-takluknya. Dan kini ia menjadi orang yang paling takut dan paling pengecut dengan laut. Trauma laut masa lalu menjadikan ia tak kuat bila harus mendengar gemuruh gelombang. Tak kuat ia menatap birunya air laut dan perahu akan menjadi barang paling menakutkan baginya. Ya, semua tentang laut, airmya, karangnya, ombak, pasir, buih dan segalanya menjadi ketakutan baginya.

Namana Afandi. Saat ini umurnya 30 tahun. Ada sebuah kisah lama yang tetap selalu mengganjal di hatinya. Menjadi hal paling menakutkan, mengerikan dan menjadi kenangan terburuk yang sama sekali tak ingin ia kenang sampai kapanpun. Ia pernah berniat untuk meninggalkan desa tempat kelahirannya untuk mengais uang di tanah rantau. Tak tanggung-tanggung, Malaysia menjadi targetannya untuk mengembara. Dengan harapan ketika pulang nanti ia akan menjadi seorang kaya dan membangun usaha sendiri di kampungnya. Menikah, punya anak, hidup makmur, menjadi darmawan, tua dan pada akhirnya mati dengan tenang. Ditangisi anak istrinya dan orang-orang lain yang mengenang semua kebaikannya. Cita-cita yang sederhana.

Kenangan pahitnya akan laut benar-benar tak bisa hilang dari ingatannya. Selalu terbayang detik-detik dimana kapal yang ia tumpangi mulai penuh, goyang dan perlahan-lahan air telah mulai masuk sedikit demi sedikit ke kapal yang ia tunggangi itu. Kecemasan akan pilihan hidup dan mati mulai berkelebat dalam lorong-lorong pikirannya. Seperti diincar perampok dengan golok yang bersinar yang siap akan melahap nyawanya. Kapal yang seharusnya hanya bisa memuat 200 orang ternyata di isi 350 orang oleh sang empunya kapal trans Indonesia-Malaysia itu. Beberapa kawannyayang lain sudah mengundurkan diri dan menolak resiko untuk naik kapal maut itu dan memilih pulang, terlebih lagi mereka semua tidak punya ijin apa-apa untuk masuk ke negri seberang ini. Tanpa paspor, tanpa segala tetek bengek surat dan ijin meninggalakan Indonesia dan masuk negara orang.

Air mulai masuk,karena kapal semakin berat dan tekanan air kalah oleh berat penumpang yang jumlahnya jauh melebihi kapasitas, 200 orang lelaki muda dan 150 orang perempuan terjebak dalam situasi terjepit di tengah malam yang mencekam dan buruknya lagi di tengah laut. Tengah laut dengan ancaman kedalaman yang tentunya tak perlu di ukur-ukur lagi. Ancaman raksasa-raksasa laut yang siap melumat sampai tulang belulang setiap orang yang jatuh ke alam air milik mereka.

Benar-benar tak bisa ia lupakan. Saat tangis-tangis para gadis yang telah siap menjadi pembantu rumah tangga di negeri tujuan mulai sahut-sahutan dan semakin memilukan dan membuat merinding bulu-bulu sekitar leher, paha dan betis. Beberapa orang mulai lelah membuang air yang masuk dengan kaleng dan ember-ember yang ada. Saat itu Fandi sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi, hanya hidup, hidup dan hidup untuk cita-cita sederhananya. Begitu pula yang lain. Isi pikiran mereka hampir sama dengan pikiran Fandi.

            “Ded, gimana ini? Sudah nggak ada harapan lagi. Siap-siap, rebut apa yang ada untuk tetap bisa mengapung dan selamat”

            “Bang, aku takut, jangan tinggalain aku bang!”

            “Sudah! Kamu tenang saja, kita cari jrigen dan kamu aku gendong di air” suara mereka agak berbisik. Tiap laki-laki mulai ambila ancang-ancang berebutan apa saja yang bisa menagapung di air.

            “Tenang semua, semua akan baik-baik saja!” si Kapten Kapal berteriak dari depan sambil tetap mengemudi. Ia pun sebenarnya tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

            “Sial kau, kau mau bunuh kami semua ya”

            “Ya. Kau bilang kapalnya muat, sekarang tinggal menunggu mati kita semua”

            “coba saja aku tahu, aku nggak akan sudi masuk kapal brengsek ini” semua mulai prote, saling menyalahkan. Situasi sudah makin panas, mencekam dan menakutkan. Angin kencang, dingin dan hujan deras tambah membuat suasana seolah kiamat sudah benar-benar ada di hadapan mereka semua.

            Äkh,,, sudah tak da waktu lagi”seseorang mulai berteriak dan  menendang-nendang pinggiran pagar kapal yang terbuat dari kayu untuk dijadikan sampan agar tetap mengapung di air. “sudah tak ada harapan lagi!” secara serentak isi kapal menjadi ramai. Tiap orang berusaha merusak apa saja yang ada. Mencari bahan-bahan yang terapung, jrigen, pakain renang darurat, gabus, semua diburu dan direbutkan. Disinilah hukum rimba berlaku, begitu pikiran setiap orang. Tangis perempuan-perempuan di atas kapal semakin menjadi-jadi. Tak da lagi yang memeikirkan orang lain, hanya berusaha untuk selamat, selamat dan hidup.

Bulu kuduk Fandi berdiri ketika mengingat momen-momen tragis yang menegangkan itu. Seandainya saja ia tahu kejadian itu akan terjadi, sungguh tak sudi dia menaiki kapal yang kelak akan merusak pkirannya hingga saat ini. Bayangan itu datang lagi-datang lagi dan lagi. Teringat saat ia dan Dedi adiknya yang juga ikut saat itu semakin dipusingkan dengan usaha untuk bertahan hidup, matanya melihat puluhan tangan-tangan melambai-lambai minta tolong dan pelan-pelan tenggelam dalam laut. Akh…. benar-benar tak bisa ia lupakan.

            “Sialan. Aku nggak bisa lupa kejadian itu. Akh….!” Fandi selalu pusing bila tiba-tiba kenangan itu meneyeruak kembali dalam pikirannya. Ia mendadak pusing, dan merasa berputar-putar hebat, merasa pikirannya terbanting-banting kesana kemari. Sulit digambarkan, seperti sebuah penyakit yang sangat langka dan tak terdeteksi dunia medis manapun.

Ia tak bisa lupa. Saat-saat dimana ia harus mengeluarkan pisau dari saku celananya dan menodongkan pada seorang pemuda yang sedari tadi berebut jrigen minyak isi dua liter dengan adiknya.

            “heh,,, berikan cepat!”ia menodongkan pisau itu ke arah orang itu. Langsung saja orang itu melompat membawa jrigen itu ke air dan berenang. Fandi tidak tinggal diam, ia lompat dan mengejar pemuda tadi, diikuti adiknya dari belakang. Kejar-kejaran terjadi di laut yang luas itu. Fandi memburu pemuda itu dengan bringas, seolah singa kelaparan yang menemukan seekor rusa. Dan tanpa merasa berdosa sedikitpun Fandi menghujamkan pisunya ke punggung pemuda tadi berkali-kali. Demi kehidupan yang mesti di pertahankan. Demi adiknya. Demi hidup yang ingin ia teruskan. Entah berapa perih luka itu ketika daging yang menganga langsung disambar oleh asinnya air laut.

Mereka berdua berenang terus dengan jrigen isi dua liter tanpa tutup itu, Fandi menutupnya degan telapak tangan kanannya, sementara Dedi bergelantungn di punggung kakanya. Disitulah segala pujian untuk Tuhan dipanjatkan, segala dosa mulai datang silih berganti berhamburan dalam benaknya. Saat itu ketakutan akan hiu ataupun pemangsa laut lainnya seolah tak ada lagi yang ada hanya berenang, menepi dan selamat untuk pulang.

Dan kenangan itu, benar-benar tak akan dilupakannya.

Ketika ia tersadar sedang terbaring lemah di sebuah kamar,ia menengok kekiri kananya, hanya ada beberapa tubuh tergeletak, putih sekali kulitnya dan pucat wajahnya. Sepertinya mereka terlalu lama berendam di air. Sampai akhirnya seseorang datang menyuapinya bubur hangat, betapa lapar dan haus rasanya. Ia melahapnya begitu membuta, sampai ia terhenti makan dan tiba- tiba melompat mencari-cari seseorang diantara tubuh-tubuh lemah itu.

            “Dedi!. Mana Dedi adikku?”tak ada yang bisa ditanyai lagi dan dia hanya menagis. Entah di hari keberapa Dedi tak mampu bertahan menggelantung di lehernya. Dan entah dimakan ikan apa atau diselamatkan siapa adiknya itu.

Kini kenangan itu tak akan ia lupakan. Kenangan pahit sepahi-pahItnyatnya itu kelak pun akan menghantuinya sampai saat terakhir ia harus menyusul 200 lebih orang-orang yang nekat mengejar cita-cita dan harus mati di laut. Termasuk adiknya. Ya, adiknya yang ia paksa untuk ikut dan menjalani mimpi konyol yang ia paksakan. Kini ia hanya tinggal lelaki krempeng, gondrong tidak terurus. Dan kaki tangannya harus tetap terpasung di tempat tidur. Ia telah menjadi lelaki terpasung sekarang, kaki tangannya dipasung orang tuanaya sendiri. Orang-orang mencapnya gila. Dan yang paling menyakitkan, hatinya terpasung ketakutan. Ketakutan pada laut.

Bookmark and Share